Bisnis.com, JAKARTA — PT Remala Abadi Tbk. (DATA) berambisi menguasai pasar internet rumah di seluruh segmen dengan strategi penggelaran serat optik secara masif, inovasi, hingga layanan terjangkau. Perusahaan menargetkan gelar 5 juta homepass dalam 2 tahun ke depan.
Direktur Utama Remala Agus Setiono mengungkap target jangka pendek dan jangka panjang yang ingin dicapai perusahaan. Untuk jangka pendek, perusahaan berambisi menggelar serat optik yang melewati rumah (homepass) sebanyak 5 juta. Sementara itu untuk jangka panjang atau dalam 10 tahun, diharapkan homepass mencapai 25 juta.
“Pembangunan 5 juta homepass akan dilakukan secara bertahap, tidak dibagi rata 2,5 juta per tahun,” kata Agus kepada Bisnis, Senin (8/9/2025)
Agus menambahkan sejalan dengan penambahan homepass, jumlah pelanggan yang dapat dirangkul diharapkan bertambah.
Per Agustus 2025, perusahaan telah melayani sekitar 80.000 pengguna aktif, dengan total homepass tergelar mencapai 350.000 homepass. Serat optik Remala menyebar dan menjangkau sejumlah titik mulai dari Jabodetabek, Karawang, Purwakarta, dan Cirebon.
Dalam skema terbaik, Agus menargetkan jumlah pengguna dapat menyentuh 500.000 pelanggan tahun ini. Sementara itu untuk skema yang kurang menguntungkan diharapkan jumlah pelanggan dapat mencapai 2 kali lipat dari pencapaian saat ini. “200.000 pelanggan masih memungkinkan,” kata Agus.
Kerja Sama Hulu ke Hilir
Agus mengatakan perusahaan tidak hanya ingin menjadi pemain internet yang biasa, perusahaan telah menyiapkan rencana pengembangan layanan dari hulu hingga hilir untuk memberikan layanan internet yang baik dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia.
Remala bekerja sama dengan sejumlah mitra. Dengan Huawei, Remala menjalin kerja sama terkait dukungan teknologi dan solusi strategis untuk menghadirkan layanan internet residensial hingga 10 Gbps,solusi keamanan jaringan anti-DDoS (Distributed Denial of Service), hingga penyediaan perangkat Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) untuk backbone utama Remala Perusahaan juga menggandeng PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) untuk penyediaan material telekomunikasi, termasuk kabel laut, kabel terestrial, dan aksesoris pendukung, disertai koordinasi teknis dan informasi dalam pengembangan jaringan Remala ke area yang lebih luas.
Kemudian, Remala juga berencana membeli kabel backbone PT Voksel Electric Tbk, hingga proses permintaan harga, negosiasi teknis dan komersial, penyusunan perjanjian pembelian, serta pengiriman dan implementasi kabel untuk mendukung ekspansi sebanyak 5 juta homepass.
Dari sisi hulu, Remala bekerja sama dengan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (Triasmitra) dan PT Jejaring Mitra Persada dalam hal Indefeasible Right of Use (IRU) untuk empat backbone yang sudah eksisting yaitu Kabel Darat (Inland) Ultimate Java Backbone (UJB), Sistem Komunikasi Kabel Laut Jakarta – Surabaya (SKKL Jayabaya), SKKL Anyer – Kalianda, dan Inland Cable SDCS (Surabaya – Denpasar Cable System).
Kerja sama juga mencangkup pembangunan SKKL Rising 8 Segmen Jakarta – Batam. SKKL Rising 8 yang akan digarap oleh JMP Bersama dengan mitra strategisnya yaitu PT Mora Telematika Indonesia, Tbk.
Kerja sama yang terjalin terakhir adalah dengan Guangzhou V-Solution Telecommunication Technology Co., Ltd (Vsol) terkait Komitmen pengadaan 1.000.000 unit perangkat Optical Network Terminal (ONT) yang dapat mensuport layanan internet rumah tangga up to 1 Gbps Remala dan PT Kosmos Wavelength Technology terkait distribusi dan infrastruktur kabel jaringan kerumah pelanggan, penyelarasan aspek teknis dan komersial, serta dukungan administratif dan legalitas kerja sama yang mendukung 5 juta home connect.
“Kerja sama dari tulang punggung sampai ke back office sampai sampai itu hidup sampai modem-modemnya juga. Kita juga lagi proses untuk perizinan NAP supaya kita bisa menjual corporate bisnis kita untuk yang kabel-kabel yang kita sudah punya,” kata Agus.
Strategi Kuasai
Pasar Agus menuturkan dalam mengejar target 500.000 pengguna hingga akhir tahun, perusahaan menyasar seluruh segmen mulai dari segmen kurang mampu, menengah, hingga premium atau kelas atas. Perusahaan menyiapkan inovasi dan layanan terjangkau bagi masyarakat.
Remala Abadi memiliki produk internet rumah bernama Nethome. Dilansir dari laman resmi, produk tersebut dibanderol dengan harga Rp116.000 (termasuk pajak) dengan kecepatan hingga 500 Mbps. Angka tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan Surge atau WIFI yang menawarkan layanan dengan harga Rp100.000 untuk kecepatan internet hingga 100 Mbps.
Selain itu, ada juga paket dengan harga Rp227.000 untuk kecepatan internet hingga 1 Gbps, yang dapat mendukung berbagai kebutuhan masyarkat.
Agus berharap dengan langkah ini penetrasi internet rumah dapat meningkat sehingga misi pemerintah dalam menggenjot internet cepat dengan harga terjangkau makin cepat terealisasi.
Sejauh ini layanan tersebut masih berada di Pulau Jawa, sebagai wilayah dengan infrastruktur dan adopsi digital paling matang di Indonesia.
Selain melalui harga murah, dalam mendorong produknya perusahaan juga melakukan sejumlah strategi pemasaran seperti memberikan user experience gratis selama 1 bulan kepada pelanggan, memperluas rantai distribusi dengan skema kerja sama bagi hasil dengan pihak ketiga, dan lain sebagainya.
“Jawa kami bakal dahulukan. Nanti di kota-kota lain. Kami sudah nyambung juga ke Kalimantan,” kata Agus.
Sumber Kunci dan Perjalanan Pelanggan
Sementara itu Founder Remala Abadi Budi Aditya Erna Mulyanto menjelaskan kemampuan perusahaan dalam menghadirkan internet terjangkau terletak pada inovasi dan teknologi yang digunakan.
Perusahaan mengejar volume atau jumlah pelanggan. Makin banyak masyarakat yang berlangganan, maka skala ekonomi dapat tercapai sehingga fix cost - untuk produksi internet rumah - yang dikeluarkan menjadi lebih terjangkau.
Budi menyampaikan untuk mencapai skala ekonomi yang pas, dalam satu klaster dibutuhkan ribuan pengguna, oleh sebab itu perusahaan melakukan berbagai bauran pemasaran untuk mencapai titik tersebut.
“Kami beli langsung direct ke pabrik. Tidak muter-muter di reseller. Jumlahnya juga banyak. Selain itu kami beli perangkat spesifikasinya sesuai dengan target pasar kami,” kata Budi.
Dia mengatakan dengan langkah tersebut ongkos biaya yang dikeluarkan untuk menjangkau pelanggan atau home connect bisa ditekan hingga dua kali lipat. Alhasil, harga yang diterima pelanggan menjadi lebih terjangkau.
Budi menjelaskan saat perusahaan masuk ke pasar baru, pelanggan mendapat kesempatan untuk mencoba gratis selama 1 bulan. Remala memberikan modem Wifi khusus kepada pelanggan. Setelah 1 bulan pemangkaian, pelanggan akan ditanya kembali perihal kesediaan untuk berlangganan kembali.
Jika pelanggan belum bersedia berlangganan, perangkat modem tetap ditinggal di mereka. WIFI tetap dapat dipakai untuk aplikasi pesan seperti Whatsapp. Kecepatan internet yang disisakan turun menjadi tinggal 1 Mbps.
Budi mengatakan langkah tersebut diambil agar jika sewaktu-waktu pelanggan ingin berlangganan kembali, pembayaran dapat langsung dilakukan dengan memindai barcode yang ada di perangkat WIFI.
Mengenai potensi WIFI hilang atau dicuri, Budi mengaku tidak khawatir karena perangkat WIFI telah dilengkapi dengan teknologi anti-pencurian.
“Jika modem tidak terhubung ke jaringan selama satu minggu, kredensial (username dan password) akan diubah secara otomatis, sehingga tidak bisa login atau aktif,” kata Budi.
